Gubernur, Jangan Remehkan Masalah Perempuan & Anak

Menteri PP & PA : Perhatian Saya ke NTT Cukup Besar

Kupang – Isu perempuan dan anak, terutama Tenaga Kerja Wanita (TKW), kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan terhadap perempuan dan anak di Provinsi NTT tidak lagi main-main.

Bahkan menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PP-PA), Yohana Yembise memberikan peringatan keras kepada gubernur NTT, Frans Lebu Raya serta para bupati/walikota se-NTT. “Gubernur dan Walikota jangan anggap masalah perempuan dan anak ini masalah kecil,” tandas Menteri Yohana saat menghadiri Pertemuan Konsultasi Nasional Perlindungan Anak di Aula El Tari Kupang, Rabu(3/6).

Yohana memberi apresiasi kepada pemerintah NTT yang sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang human trafficking. Namun menurut dia, itu belum cukup. Apalagi dengan maraknya persoalan yang berkaitan dengan perempuan dan anak di NTT.

Saya usulkan supaya ada juga Peraturan Daerah di NTT tentang ketahanan keluarga agar mudah diatur keluarga. Seperti yang sudah ada di Provinsi Jawa Barat. Karena sebenarnya sudah banyak regulasi yang mengatur tentang perempuan dan anak, tapi tidak direalisasikan. Asal ngomong saja. Banyak anak-anak di Indonesia yang terlantar,”tegasnya.g

Dalam pertemuan yang di hadiri Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan Walikota Kupang, Jonas Salean itu, Yohana mengurai beberapa program yang direncanakan dalam rangka pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Misalnya meminta pihak terkait untuk memanfaatkan dana desa juga untuk kepentingan pemberdayaan perempuan dari tingkat desa.

“Perhatian saya ke NTT cukup besar. Nanti bulan Agustus, kami akan memberi pelatihan kepada 500 perempuan di NTT kerjasama dengan Tahir Faundation. Dan dua minggu lagi tes bahasa inggris. Pak Gubernur dan Walikota tolong siapkan 600 orang untuk kami seleksi menjadi 500. Pelatihannya selama enam bulan. Lalu dilanjutkan dengan 600 atau 700. Atau kalau bisa 1000 atau 2000 pun bisa, tergantung kalau daerah siap. Dan program ini samapi lima tahun ke depan sampai tahun 2019,”tantang Yohana.

Hala lain yang dibicarakan Yohana pada kesempatan itu, yakni terkait perkembangan teknologi masa kini yang kian meresahkan. Bahkan dia menyinggung kasus protistusi online yang beberapa pecan lalu menghebohkan nusantara. Bahkan perempuan asal Papua ini ingin mengeluarkan aturan untuk melarang penggunaan telepon genggam bagi anak sekolah. “Saya akan buat aturan, larang anak SD menggunakan HP. Mungkin boleh tapi control dengan baik. Karena penggunaan HP itu mungkin ada bagusnya untuk mereka belajar. Tapi ternyata ada dampak negative, yakni mereka buka situs-situs porno yang sekarang dengan mudah didownload,” tandasnya lagi.

Sumber : Timor Express Kamis, 4 Juni 2015

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

More in this category: